“Mata Merah”

“Mata mu merah!” Seorang teman bertanya.

“Aku belum makan.” Dia menjawab bersahaja. Mata masih kaku di papan putih meja.

“Kau ngantuk?.”

“Esok hari last.”

Matanya melirik ke sisi kiri. Ada setebal batu-bata. Berbalam-balam di atas meja. Bersepah.

“Jangan jadi hamba.” Seorang teman celupar melepas bahasa.

Orang tidak tahu perit jerih seseorang. Majikan makin haloba. Manusia sudah jadi mesin untuk perah duit.

Dia bangun dan terus beredar. Sebatang rokok yang tinggal di sedut puas-puas di ruang dapur pejabat. Bos belum masuk lagi.

duwenk, Bangi.

Advertisements

One Response to ““Mata Merah””

  1. tetapi kalau jadi hamba kepada Tuhan, tak mengapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: